Rabu, Juli 08, 2009

SEKALI LAGI AKU HANCUR...!!


Kemarin aku bertanya kepada Tuhan,”Seperti apakah malaikat itu?. Aku ingin melihatnya, walau aku juga begitu ingin melihat-Mu”.

Tuhan sedikit tertawa, lalu menjawab,”Coba saja kau cari sendiri, anak muda!. Mereka ada di sekelilingmu. Tapi berhati-hatilah, karena pesonanya bisa getarkan urat nadimu. Bahkan mungkin bisa membuatmu mengabaikan-Ku”.

Maka sejak itu, dengan kebodohanku, kuloncati gunung-gunung, kulangkahi lautan, dan kutatap setiap gerik yang menawan.

Disitulah jutaan makhluq mencoba menarik kata pujianku.

Tapi apalah daya mereka, matakupun terlalu bosan membuka kelopaknya.

Ditengah tarian-tarian konyol bumi ini, lelah mulai menghimpitku. Dan kantuk mulai menindihku.

Aku tertidur di lumpur yang hangat, bekas babi-babi hutan yang kasihan padaku.

Dengan setengah pulas kudengar babi-babi itu berdoa, agar aku dapat segera temukan malaikatku, pencarianku selama ini.

Kemudian beberapa anjing meng-amininya sambil menjilat kakiku.

Mereka sayang sekali padaku.

Esok harinya, lancang sekali matahari pagi menyengatku.

Tapi aneh. Aku berada di bumi yang permai. Rumput yang riang, dan pepohonan yang ramah.

Kulihat kupu-kupu sibuk berdandan untuk menggoda para kumbang.

Dan di atas sana, awan sedang bercanda, berlarian kesana-kemari.

Lalu semilir angin membisikkan sesuatu padaku, bahwa malaikatku telah datang menjengukku, diatas bukit sana.

Maka dengan sorak gempita para cacing tanah, ku berlari kencang ke atas bukit, walau rumput berduri tajam.

Maka darah dikakiku menjadi saksi, bahwa aku melihat sesosok anggun dengan kerudung putih terurai, sedang menabur bunga diatas bumi yang manja.

Kecantikannya tidak hanya getarkan urat nadi, tapi juga menendang hatiku keluar dari dadaku.

Dan seperti kata Tuhan-ku, keindahan sosok itu hampir membuatku mengabaikan-Nya.

Tapi hancurlah aku di akhir kisah ini, ketika matanya lurus menatapku, seraya bibir merah yang berucap,”Selamat tinggal….”

"TIADA TUHAN SELAIN TUHAN"

Sebaris kalimat diatas adalah petikan judul dari artikel Nurcholis Madjid tentang terjemah dari lafadz “laa ilaaha illa allah”, yang mengundang banyak kecaman dari pembacanya.


Saya agak heran, mengapa mereka mengecam hanya gara-gara hal itu. Karena saya kira, kita cuma butuh dua segi pendekatan untuk mencoba menerima, yaitu segi bahasa, kemudian segi keyakinan.


Pertama, segi bahasa. Seperti yang kita tahu bahwa kata “Allah” mempunyai akar kata “ilaah” yang berarti Tuhan. Kemudian agar bermakna khusus, maka ditambah “al ta’rif” pada awalannya. Maka arti kata “Allah” secara leksikal yaitu Tuhan(yang khusus/satu-satunya Tuhan).

Kedua, segi keyakinan. Allah adalah Tuhan. Dan Tuhan adalah Allah. Ketika kata “Allah” muncul, maka kata “Tuhan” ada di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini, keyakinanlah yang menjadi inti, bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah.


Saya juga heran sekali dengan orang yang melarang menyebut Allah dengan kata “Tuhan”. Padahal sudah jelas-jelas bahwa Allah adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Allah. Jika mereka masih melarang, maka justru mereka perlu “dicurigai”.

Dari uraian diatas, maka dari kalimat “tidak ada Tuhan selain Tuhan” jika dilengkapi (dihusnudzon-kan) menjadi “tidak ada Tuhan-lain-, selain Tuhan(Allah)”.


Masih keberatan..??


Kemudian tahukah anda mengapa lafadz tauhid “laa ilaaha illa allah” ber-atribut sebagai “afdlal al-dzikr”(dzikir yang paling utama)??. Ada Fulan yang bertanya dalam hatinya tentang hal itu, padahal dia pikir banyak lafadz lain yang mempunyai makna tak kalah bagus, dan justru terdengar lebih mengena, seperti “Allah Maha Pengampun”, “Maha Suci Allah”, “Allah Maha pemberi rizqi”, dan lain-lain. Maka perlu ada penjelasan untuk si-Fulan tentang hal ini.


Seringkali orang yang duduk dalam dzikirnya mengucap lafadz “laa ilaaha illa allah” dengan memaknainya hanya dengan satu jenis makna saja, yaitu-makna asli-“Tidak ada Tuhan selain Allah”, atau bahkan tidak berfikir maknanya, tapi hanya berucap sambil geleng kepala saja. Padahal ada ratusan, bahkan ribuan makna yang bisa kita peroleh dari lafadz tahlil itu. Seperti misalnya,”tidak ada yang menghidupkan kecuali Allah”, “tidak ada yang membuat kuat kecuali Allah”, “tidak ada yang membuat pintar kecuali Allah”, “tidak ada yang menjatuhkan pesawat kecuali Allah”, “tidak ada yang mengangkat presiden kecuali Allah”, “tidak ada yang bisa membuat aku membaca blog ini kecuali Allah”, dan masih banyak lagi makna terpendam lainnya yang dapat kita ungkap, sehinnga kita semakin mengerti bahwa semua hal ada yang mengaturnya. Jadi pantas jika lafadz tahlil ini menjabat sebagai “afdlal al-dzikr”.


Tapi perlu juga diingat, bahwa disetiap lafadz tahlil itu kita ucapkan, maka harus kita sisipkan juga makna “Muhammad Rasul Allah”(Nabi Muhammad utusan Allah), agar kita berbeda dengan orang-orang Yahudi, yang hanya percaya rada Allah saja, dan tidak meng-iman-i kenabian Muhammad SAW.

Sabtu, Juli 04, 2009

TAKWIL: Kebenaran Yang Relatif

a. Pengertian

Secara etimologi, takwil berasal dari kata “al-aul” yang artinya “kembali”.(ada juga yang berpendapat berasal dari kata “awwala” yang artinya “pertama”). Sebagian ulama’ ada yang berpendapat bahwa takwil itu sinonim (murodlif) dari kata tafsir. Seorang pengarang kamus mengatakan; “seseorang menakwilkan ucapan dengan satu takwil, artinya ia merenungkan, memperkirkan, dan menafsirkannya”.

Takwil juga bisa berarti “memalingkan”. Maka takwil berarti memalingkan ayat pada satu makna yang tercakup dalam pengertian ayat yang mungkin mempunyai beberapa pengertian.

Sedangkan secara terminologi, para ahli tafsir berbeda pendapat dalam membumikan definisi takwil. Ulama mutaqaddimin berpendapat bahwa takwil merupakan sinonim dari tafsir, sehingga hubungan (nisbat) diantara keduanya adalah sama. Sementara takwil menurut ulama mutaakhkhirin adalah: memalingkan dan mengarahkan makna lafadz yang kuat atau rajih kepada makna yang lemah atau marjuh, karena ada dalil yang menyertainya.

Secara sederhana, takwil dapat dikatakan sebagai pengertian tersirat yang diproses atau istinbath dari ayat-ayat al-Qur’an, yang memerlukan perenungan, dan pemikiran (pertimbangan), serta sebagai sarana pembuka tabir.

b. Hubungn antara takwil dan teks.

Melihat pengertian dari takwil, maka tentu metode takwil muncul karena adanya teks, terlebih lagi karena adanya ke-tidaknyaman-an atas pemaknaan teks yang sudah ada oleh para pemikir klasik.

Takwil berhubungan erat dengan teks melalui bahasa dan gramatikal kata perkata untuk membentuk makna semantis. Takwil tidak mempermasalahkan bagaimana dan mengapa teks itu muncul (konsep historis) tapi takwil lebih mengutamakan bagaimana agar teks itu dapat berjalan sempurna bersama makna hakikinya, kini, esok, dan seterusnya, sesuai dengan realitas yang ditembusnya.

Menurut definisi kontemporer, teks adalah serangkai tanda-tanda yang tersusun di dalam suatu sistem relasi-relasi, yang menghasilkan makna umum yang mengandung pesan, baik tanda-tanda tersebut menggunakan bahasa –kata-kata- maupun merupakan tanda-tanda dengan menggunakan bahasa lainnya.. Tanda-tanda inilah yang menjadi bahan olah atas takwil. Kemudian tanda-tanda yang bersifat implisit ini diolah dengan pendekatn linguistik, hingga terpaut antara makna disetiap kata, dan memunculkan pesan yang dapat dimengerti. Berbeda dengan metode tafsir, yang diharuskan selalu menengok kebelakang (asal-usul adanya teks) dalam setiap langkah kedepan (relitas kontemporer), takwil lebih memandang –hingga jauh- kedepan dengan ideologi modern, walau juga dengan membandingkan antara prespektif budaya saat penulisan teks dengan masa kekinian, bahkan masa depan.

c. Penerapan Takwil terhadap teks al-Qur’an

Di masa kehidupan Rasulullah SAW. beliaulah layaknya al-Qur’an/ wahyu yang hidup dan berbicara. Apapun bentuk kegelisahan ummat dalam mengerti wahyu Tuhan dapat terjawab oleh Nabi sendiri. Tapi kemudian setelah kepergian beliau (karena telah “sempurna’ wahyu serta agama yang menjadi tugas dakwah beliau –walau masih banyak ummat yang belum dapat mengerti-, tepatnya setelah selesainya penyusunan mushaf al-Qur’an, pesan Tuhan seakan kembali tersembunyi di balik mushaf (budaya). Maka di sinilah mulai bermunculan berbagai metode dari para mujtahidun untuk –mencoba- mengungkap kembali pesan Tuhan, dengan satu-satunya bahan, yaitu teks (Mushaf ‘Utsmany).

Takwil adalah salah satu metode yang dipilih, dengan cara menganalisis kata per kata dari setiap ayatnya melalui pendekatan yang ketat dari segi bahasa dan budaya. Tetapi tidak semua ayat di-takwil-kan. Takwil lebih memfokuskan pada ayat-ayat mutasyabihat.

Boleh dikatakan, bahwa ini juga adalah bentuk ijtihad yang mempunyai tujuan mulia, walau berbeda dengan metode yang ditempuh oleh kebanyakan ulama, terutama tradisional. Mereka (ulama’ tradisional) menyerukan bahwa, jika menemui permasalahan apapun yang terkait dengan pemaknaan al-Qur’an, maka diselesaikan –hanya- dengan tafsirnya saja. Menurut kajian filsafat kontemporer hal ini disebut strukturalisme. Kaum inilah yang pada umumnya menolak metode takwil atas al-Qur’an.

Sedangkan yeng lebih condong menggunakan metode takwil atas al-Qur’an adalah kaum liberalis. Memaknai kembali (reinterpretasi) pada ayat-ayat al-Qur’an mereka gencarkan dengan sikap desakraliasi pada wujud al-Qur’an. Menurut mereka, dari segi eksistensi al-Qur’an sama dengan karya-karya ilmiah yang lain. Tapi dari segi pesan, mereka mengakui bahwa al-Qur’an memang lebih unggul daripada yang lain. Mereka mengupayakan agar al-Qur’an langsung dirasakan oleh siapapun yang ingin mengkajinya (bukan merasakan kitab tafsir, apalagi buku-buku bacaan lain).

Didalam al-Qur’an kata takwil mencakup penakwilan makanan/ ta’wil ath-tha’am (QS. Yusuf : 37), penakwilan perbuatan-perbuatan/ ta’wil al-af’al (QS. Al-kahfi: 78), penakwilan al-Qur’an, atau ancaman, dan penaklukan di dalamnya (QS. Yunus: 39), dan penakwilan ayat-ayat mutasyabihat (QS. Ali ‘imran: 7). Namun demikian, Nasr Hamid menyatakan dalam bukunya bahwa penakwilan ayat mutasyabihat harus dikembalikan pada ayat-ayat muhkamat yang merupakan ‘induk kitab’(ummu al-kitab). Jadi ayat-ayat muhkamat diyakinkan mampu menjelaskan ayat-ayat mutasyabihat. Inilah takwil yang absah dan takwil lainnya tercela lantaran merupakan hawa nafsu, pendapat pribadi, dan kepentingan subyektif.

Nasr Hamid menyatakan bahwa interpretasi adalah wajah lain dari teks. Tapi dalam segi yang lain teks mempunyai eksistensi yang terlepas dari interpretasi dan komentar, sehingga teks mengarahkan tindak interpretasi untuk menguak dunia teks itu sendiri. Interpretasi dan teks adalah dua sisi dari satu mata uang.

Teks al-Qur’an telah ditundukkan pada interpretasi sejak masa pewahyuannya. Muhammad adalah penafsir yang pertama yang melalui dialah al-Qur’an untuk pertama kalinya berinteraksi dengan fikiran manusia..

Kemudian untuk perkembangan interpretasi al-Qur’an selanjutnya para ilmuan muslim biasanya menggunakan tiga macam metode utama: Interpretasi tekstual (tafsir bi al-ma’tsur/ tafsir bi al-riwayah), interpretasi rasional (tafsir bi al-ra’yi/ tafsir bi al-dirayah), dan interpretasi intuitif atau menghunakan indikasi tanda-tanda (tafsir isy’ari).

d. Kebenaran Yang Relatif

Dalam wacana ilmiah, al-Qur’an adalah buku yang melambangkan engetahuan dalam bentuk grand teks, yang memperkenalkan dirinya dalam beberapa kategori, yaitu; al-Qur’an mempertunjukkan dirinya sebagai petunjuk manusia (hudan); QS. al-Baqarah: 2, lalu sebagai sinar yang menerangi (nur); QS. al-Nisa’: 174, sebagai kasih (rahmat); QS. Yunus: 58, sebagai penengah (hakim); QS. Yunus: 1, sebagai ilmu; QS. al-Ra’d: 37, dan lain sebagainya, sehingga al-Qur’an pada akhirnya jatuh menjadi kitab yang ambique dan berkarakter ambivalensi (mendua)-dengan sudut pandang intern dan ekstern.

Artinya bahwa al-Qur’an bila dipandang oleh setiap orang dengan masing-masing tingkat kecerdasannya, akan menghasilkan corak pemikiran yang beragam. Termasuk apabila menggunakan cara pandang dan methodologi yang sama.

Maka pengakuan kebenaran suatu makna dari al-Qur’an dalam suatu permasalahan, akan dapat dikatakan sebagai kesalahan jika ditempatkan di permasalahan yang lain, menurut konteks yang ada pada saat itu. Inilah kebenaran relatif makna al-Qur’an, atas paradikma bahwa al-Qur’an itu manusiawi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Abu Zaid, Nasr Hamid, Teks Otoritas kebenaran, 1995

2. Dr. Machasin MA., Al-Qadi Abd Al-Jabbar. Mutasyabih al-Qur’an: Dalih Rasionalitas al-Qur’an, 2000

3. Haryono, M. Yudhie R., Bahasa Politik Al-Qur’an. Mencurigai Makna Tersembunyi di Balik Teks, 2002

4. Kamus al-Munawwir, ..

5. Ichwan, Moch. Nur, Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Qur’an. Teori Hermeneutika Nasr Abu Zaid, 2003

Kamis, Juli 02, 2009

REINKARNASI: Daur Ulang Menuju Kesempurnaan

Jangan Pungkiri Reinkarnasi........!!

Reinkarnasi, sebuah kata yang selalu ditolak dan tidak diakui kebenarannya oleh hampir seluruh umat islam, tetap patut kita perbincangkan. Dan perbincangan ini mengarah pada klimaksnya, bukan karena kemunculan paham reinkarnasi, tapi lebih karena penolakan atas paham itu sendiri.

Reinkarnasi mempunyai arti “lahir lembali”, yaitu suatu proses lahirnya kembali jiwa/ruh seseorang yang telah mati dengan raga dan keadaan yang berbeda, sesuai dengan amal perbuatan pada kehidupannya yang dahulu. Dalam kehidupan kedua ia akan lupa keadaan kehidupan yang pertama. Sehingga ia sendiripun tidak menyadari bahwa diriya dahulu sudah pernah hidup.

Beberapa agama (selain islam) meyakini adanya reinkarnasi pada kehidupan manusia, seperti halnya agama Hindu dan Buddha. Mereka meyakini ada kehidupan kedua di bumi ini. Dan hal ini tidak sebatas lingkup manusia saja, tapi juga seluruh makhluk hidup. Bisa saja, yang semula manusia kemudian ber-reinkarnasi menjadi hewan. Yang semula hewan, ber-reinkarnasi menjadi manusia. Yang semula manusia, kemudian lahir kembali sebagai manusia, dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan islam sendiri?

Sering kita temui umat islam yang menentang adanya reinkarnasi. Sering pula mereka mengungkapkan alasan-alasan yang kurang bisa diterima, bahkan tidak ada hubunganya dengan inti pembahasan. Dan jika kemudian mereka kalah dalam adu argumentasi, mereka malah marah. Tapi ada juga beberapa orang islam yang menganggap bahwa dalam al-Qur’an ada beberapa ayat yang menunjukkan adanya reinkarnasi. Diantaranya adalah (yang artinya):

- Surat An-Naml, ayat 65; Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.

- Surat Al-An’aam, ayat 95; “Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir-butir tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (yang memiliki sifat-sifat). Demikian ialah Allah, mengapa engkau masih berpaling?”

- Surat Maryam, ayat 33; “dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (nabi Isa) pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

- Surat An-Naazi’at, ayat 14; “maka dengan serta merta mereka (manusia) hidup kembali di permukaan bumi”.

Ada bermacam tafsiran tentang ayat-ayat diatas. Karena memang tafsiran adalah hak penuh bagi siapapun. Dan di dinia ini tetap tidak ada satupun sosok yang berhak menyalahkan tafsiran orang lain. Kalaupun ada, maka sungguh dia orang yang tak tahu malu.

Termasuk dalam hal ini, malu sekali rasanya jika melihat saudara seagama kita ikut-ikutan "sok" menyalahkan, bahkan meng-kafir-kan saudara seagama yang mencoba meneliti dan membenarkan adanya reinkarnasi, tapi mereka sendiri tak mempunyai daya nalar yang kuat.

Kita bisa mengingat beberapa kuasa Allah yang terkait dalam hal ini, misalnya; Allah menghidupkan kembali empat macam burung yang telah dipotong-potong oleh Nabi Ibrahim dengan mengembalikannya seperti semula, Allah juga menghidupkan kembali manusia yang sudah meninggal, melalui tangan Nabi Isa. Terbuktilah bahwa Alloh Maha kuasa menghidupkan kembali makhluq-Nya, di dunia ini.

Disini, penulis tidak bermaksud membenarkan adanya reinkarnasi, atau tidak menyetujui adanya reinkarnasi. Hanya saja, penulis sangat menyayangkan jika ada seseorang yang berkata bahwa reinkarnasi itu tidak ada dan tidak mungkin terjadi. Karena dengan perkataan sejenis itu, maka orang itu tampak sok tahu dan bodoh. Dia lupa bahwa Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu . Alloh berhak melakukan apapun, termasuk me-reinkarnasi makhluq-Nya. Kalau sampah saja bisa didaur ulang, kenapa manusia tidak..??. ini sama sekali bukan hal yang mustahil, bahkan sangat mudah bagi Allah.

Bahkan ada juga orang yang lebih bodoh dan lucu sekali. Ia berkata, bahwa reinkarnasi itu paham kafir karena yang mempercayainya adalah orang-orang kafir. (kata Romy Ravael,”so what…?!”), karena disini kita membahas tentang reinkarnasi, dan bukan agama. Pemikiran kaum non islam juga pantas kita teliti dan renungkan. bahkan terkadang mereka lebih cerdas daripada kita.

Maka disini, penulis menghimbau untuk saudara-saudara yang masih hobi meng-kafir-kan dan me-murtad-kan orang lain, sudah saatnya menjernihkan pikiran dan keputusan. Seperti halnya sebelum menyeberang jalan, maka harus tengok kiri-kanan.