Senin, November 16, 2009

PENGARUH FILSAFAT PLATO DAN ARISTOTELES TERHADAP THEOLOGI ISLAM

Berbagai macam paradigma muncul dari para pendahulu kita dalam menanggapi sebuah kehidupan dan keadaan. Mereka tetap aktif dengan berbagai pemikiran dan argumen walaupun tanpa kemampuan untuk mengungkap dengan sebuah pembuktian secara ilmiah.

Secara umum, hasil pemikiran itu terbagi menjadi tiga kelompok besar; yaitu ranah filosofistik, sufistik, dan normatif. Ketiganya itu mempunyai alur masing-masing yang berbeda dan memunculkan tokoh-tokoh yang berbeda pula. Tetapi, seiring dengan perjalanan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, ketiga bentuk pemikiran itu menjadi mungkin untuk dipadukan, yang kemudian pada gilirannya melahirkan bentuk pemikiran baru yang tentunya juga mempunyai taraf relefansi tersendiri.

Bentuk pemikiran pada ranah filosofistik memunculkan banyak tokoh terkemuka. Diantaraya adalah Plato dan Aristoteles. Sebagaimana yang lain, pemikiran mereka tidak terbatasi oleh pengaruh komunitas apapun, termasuk agama, khususnya islam. Bahkan tentunya mereka belum pernah sempat mengenal agama islam. Tetapi tanpa terpungkiri, jasa dari pemikiran mereka dapat memberikan sumbangan besar bagi pemikir-pemikir muslim yang resah dengan ketidakpuasan atas doktrin. Kemudian menjadi suatu kajian atau bahkan penuntun untuk menggali lebih dalam hakikat dari kehidupan dan penentuan sikap dalam memahami al-Qur’an.

Pada abad 8 dan 9 karya-karya kedua filsuf itu mulai diterjemahkan kedalam bahasa arab. Ini merupakan salah satu sebab dari munculnya filsuf-filsuf arab yang begitu berpengaruh pada gejolak kajian keislaman. Diantaranya adalah al-Kindi, ibnu Sina, ibnu Rusyd, dan al-Ghazali.

Secara garis besar, ajaran dari Plato dan Aristoteles yang terkenal adalah tentang rasio, dengan adanya dualisme dalam diri manusia. Menurut Plato, bahwa dalam diri manusia terdapat dua “dunia”, yaitu dunia ide dan dunia panca indra. Apa yang ada pada dunia ide itu tetap, sementara apa yang ada pada dunia panca indra itu selalu berubah karena pengaruh ruang dan waktu (merupakan perpaduan dari pemikiran dua gurunya yang saling bertentangan). Dunia panca indra selalu tidak mampu memenuhi hasrat dunia ide yang “sempurna”.

Aristoteles yang merupakan murid dari Plato juga mengatakan adanya dualisme dalam diri manusia. Perbedaannya, dualisme itu bukan berupa dunia ide dan dunia panca indra, tetapi lebih luas lagi yaitu berupa bentuk dan materi. Teori bentuk dan materi ini juga dapat berlaku untuk benda apapun selain manusia, yang mana mempunyai materi (bahan dasar) dan bentuk (wujud hasil). Ia juga mengkritik pendapat Plato tentang ide. Jika berbicara tentang ide, maka saat itu pula sedang berbicara tentang manusia. Jika berbicara tentang manusia, Aristoteles tidak spesifik mengarah pada ide (yang berbeda-beda), tetapi secara kongkrit membedakan antara manusia dengan manusia yang lain (seutuhnya). Dalam arti, dia tidak menafikan dunia ide, hanya saja ide itu sudah bersemayam dalam tiap (jiwa) manusia yang berada dalam bentuk masing-masing (wujud manusia).

Dengan melihat kedua paradigma diatas, bisa dinilai bahwa keduanya itu benar menurut rasio, karena bisa diterima oleh nalar. Dan keduanya tetap berada dalam kebenaran rasio walaupun seandainya al-Qur’an tidak diturunkan. Tetapi kemudian islam –melalui para pemikirnya- turut membenarkan teori dualisme diatas, yang kemudian dipakai untuk metode relasi horisontal antar sesama manusia dan alam, dan vertikal antara manusia dan Tuhan.

Sebagai salah satu contoh adalah pemikiran al-Ghazali. Ia adalah tokoh yang berupaya mendamaikan antara teori filsafat, tasawuf, dan syari’at. Terlihat dari ungkapan dalam kitabnya yang masyhur, Ihya ‘Ulum al-Din;

“…akal pikiran tidak dapat berjalan tanpa pengetahuan, dan sebaliknya. Oleh karena itu, orang yang mendukung taqlid tanpa memakai ilmu pengetahuan intelektual, adalah orang yang bodoh. Dan orang yang puas hanya dengan ilmu-ilmu tersebut tanpa cahaya dari al-Qur’an dan Sunnah adalah orang yang sombong”

Menurut al-Ghazali, wahyu dan akal itu saling membutuhkan. Dan kebenaran agamawi dapat diperoleh dengan korelasi antara keduanya. Karena itulah fungsi akal yang dimiliki manusia. Maka akal mempunyai peran penting untuk mencari sebuah kebenaran. Ini pulalah maksud dari para filsuf barat manganai kebenaran yang juga mereka bidik sejak dahulu, sebagai pembuktian bahwa setiap unsur itu mempunyai makna yang dapat dimengerti oleh akal budi.